City car “irit bensin” vs City car “taksi”
Thursday, October 12th, 2006Semenjak harga BBM di Indonesia melonjak drastis, produsen kendaraan beroda 4 berlomba-lomba menawarkan mobil yang diklaim teririt untuk kendaraan sekelasnya.
Bahkan ada produsen mobil yang mengklaim kendaraan produksinya, kendaraan bensin kelas city car yang dilengkapi teknologi 2 busi di tiap dilindernya, mampu menempuh hingga 50 km hanya dengan 1 liter bensin.
Klaim ini bukan sekedar klaim memang, karena hasil ini diperoleh dari perlombaan “eco challenge”.
Namun mengingat angka tersebut terasa “ajaib”, muncul komentar -komentar meragukan
“Apa iya 50 km bisa ditempuh hanya dengan 1 liter bensin padahal berat mobilnya kan 1 ton? Kalau motor sih mungkin.”
Sebagus apapun hasil perlombaan irit bensin eco challenge, lomba hanyalah lomba, “real performance” baru terasa saat dipakai sehari-hari, apakah benar-benar irit atau hanya irit hanya ketika perlombaan saja.
Di kemudian hari, saya menemukan sebuah forum di internet yang membahas mobil city car yang diklaim produsennya paling irit tersebut. Di forum ini banyak melontarkan pernyataan kekecewaan karena mobilnya tidak seirit seperti hasil lomba, pemakaian tol 1:18 , dalam kota 1:13.
Dari forum tersebut saya memang tidak bisa menyimpulkan apakah mesinnya yang salah atau memang faktor gaya mengemudi yang salah hingga bensinnya tidak seirit saat lomba.
Namun yang menarik dari forum tersebut adalah pernyataan yang tidak bisa dibantah oleh anggota forum bahwa pada kenyataannya konsumsi bensin city car “irit bensin” ini tidak terpaut jauh dari mobil city car produsen lain yang dijadikan taksi, bahkan city car “taksi” dinilai memiliki akselerasi kecepatan yang lebih baik.
“Kalau nggak percaya coba saja tanya ke supir taksi!”